sejarah kota majalengka
MAJA DAN MAJALENGKA JAMAN BAHEULA
Tatang M. Amirin; 25 Nopember 2010; 1 Desember 2010; 5 Januari 2011; 14 Januari 2011; 14 Februari 2011; 4 Juni 2011; 25 Januari 2012; Mei 2012
(c) 2010. Hak cipta pada Tatang M. Amirin. Dilarang memperbanyak seluruh atau sebagian isi tulisan ini tanpa izin pencipta.
PENGANTAR
Tulisan dan gambar-gambar yang dimuat dalam paparan di bawah nanti dilacak dari internet sejak 25 Nopember 2010 sekaligus dengan melacak jejak Kerajaan (Ketumenggungan) Talaga, juga sejarah Kabupaten Majalengka dan (sebelumnya) Kabupaten Maja. Tadinya masih ragu-ragu dengan keberadaan Kabupaten Maja dan Sindangkasih versus Majalengka. Dengan pelacakan itu, yakin seyakin-yakinnya (berdasarkan fakta sejarah) apa yang saya gali benar adanya, yakni bahwa Kabupaten Majalengka baru ada sejak adanya Kabupaten Maja (1819). Perubahan Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka (1840) sekaligus pula mengukuhkan keyakinan tidak ada perubahan nama Kerajaan Sindangkasih menjadi Kerajaan Majalengka (zaman Pangeran Muhammad). Juga bahwa kota Majalengka baru ada sejak ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan dari Maja ke bagian wilayah Sindangkasih, serempak dengan penamaan wilayah Sindangkasih tersebut (khusus yang jadi ibu kota) dengan nama Majalengka seperti nama kabupatennya.
Nama “maja lengka” berasal dari nama kuno yang dipakai (sinonim) untuk menyebut “maja pahit” atau “maja langu.” Maja lengka artinya maja pahit, buah maja yang pahit, karena ada juga buah maja yang manis (maja legi). Lengkit (leng dalam lengkap) artinya sama dengan pahit atau langu. Maja yang pahit itu berenuk (Crescentia cujete). Maja yang manis (maja legi atau maja batu atau Aegle marmelos) bisa dimakan dijadikan sirup, maja yang pahit (berenuk) tidak bisa dimakan, tapi biasa digunakan untuk obat malaria (sebelum kina ditemukan Junghuhn).
Dalam bahasa Sansekerta buah maja itu disebut “bilva”, sementara pahit disebut “tikta” (lihat kamus Inggris-Sansekerta online). Kata “bilva” itu berubah jadi “wilwa” dalam tuturan Indonesia-Jawa; majapahit = wilwatikta. Bilva= bael = buah dari Bengali, India. Bilva (bael) sendiri itu maja legi (buah maja yang manis).
Buah maja (maja pahit, maja lengka, berenuk, atau crescentia cujete)
Buah maja legi atau maja batu (stone apple) atau aegle marmelos atau “bilva” (bael)
Keberadaan Kabupaten Maja yang ibu kotanya di Maja itu tidak banyak bukti peninggalan sejarahnya, selain peta dan beberapa lokasi (foto di bawah) yang menyebut itu ada di Maja (Kabupaten–karena tidak berada di Kecamatan apalagi desa Maja). Yang paling meyakinkan hanya alun-alun Maja yang difoto dari arah kantor Kabupaten berikut. Kenapa difoto? Karena ada sudut pandang khas, yaitu bentuk Gunung Bongkok (Gunung Sela) yang sangat amat spesifik.
Jalan arah ke kiri ke Mesjid Maja — dalam literatur Belanda tertera sebagai berpintu khas -pintu koboy. Yang banyak pedati itu jalan kecil ke kiri ke arah bukit pemakaman, ke kanan akan bertemu lagi dengan jalan raya, di jalan ini tinggal keluarga Yogi S. Memet (mantan Guberbnur Jawa Barat/Mendagri, dan Tuti Hayati Anwar (mantan bupati Majalengka).
Bupati Kabupaten Maja (sampai berubah jadi Majalengka) adalah Raden Tumenggung Dendanegara (1819-1848), yang dipercaya makamnya ada di Gunung Wangi yang oleh penduduk setempat diberi nama Dalem Kiyai. Jalan raya utama Maja -Cirebon adalah jalan raya Maja (kantor bupati), ke utara, berbelok ke kanan melewati jembatan Cirungkut (Cibuni, Cigede–kata orang Babakan Jawa Maja) melewati Blok Saptu terus ke Cileungsi Paniis, Cicalung, Ciomas, Padahanten, Sukahaji, Rajagaluh, Leuwimunding, Banjaran, Palimanan, Plumbon, Cirebon). Jadi jalan itu akan cocok diberi nama Jalan Raden Tumenggung Dendanegara.
MAJA BAHEULA
Ini benar-benar sejarah, yang selalu dan selalu akan dalam pelacakan, dan sepotong-sepotong. Sejarah ini khusus berisikan rekaman-rekaman peristiwa masa lampau, termasuk foto-foto, dari Kabupaten Majalengka. Nah, silakan “masuk” jika punya informasi tambahan.
PABRIK TEH ARGALINGGA
Sekali pernah tertemukan foto jaman baheula (jadoel) rumpun bamboe (bamboedos) di Argalingga. Yang memotret Urang Walanda, tentu. Artinya itu foto jaman ketika Belanda masih sedang bercokol di Indonesia. Menarik. Kenapa hanya rumpun bambu saja kok difoto?
Itu barang aneh bagi orang Belanda, tentu. Di Belanda tidak ada pohon bambu, soalnya. Di Inggris ada sih pohon bambu raksasa, sangat amat besar sekali, bambu besar kehijauan bergaris-garis putih, tapi cuma dalam “kurungan tenda kaca” berpemanas ruangan yang tembus pandang. Lupa-lupa ingat tempatnya, kayaknya di Kebun Raya Inggris yang bernama Kew Garden. Di situ ada juga ikan kancra yang bukan main gedenya. Jelas bukan kancra dari Maja. Hehehe. Ikan kancra Maja mah “karecil,” da sudah agak besar sedikit aja, langsung dijual. Butuh duit, gitu. Mending kalau terjual, kadang kala “dipalingan ku batur,” dan dimakan “sero.” (Wah, kok tidak ada foto “kokolotokan” di pancuran “balong”, ya!)
Foto bambu karya orang Belanda itu jadi mengingatkan pula pada bahwa pada jaman Belanda akhir di Argalingga itu ada perkebunan teh. Orang Belanda mendirikan pabrik teh di Argalingga, dan tentu tinggal di situ (sejuk sih, kayak di Belanda), dan jadilah memotret bambu yang ada di situ, sebagai sesuatu yang menarik. Perkebunan teh itu sekarang tinggal bekas-bekasnya saja. Konon kata yang sering mendaki Gunung Ciremay lewat jalur Apuy, bekas perkebunan itu sudah jadi kebun sayur mayur.
Rumpun bambu di Argalingga [foto 1920; koleksi Tropenmuseum]
Melacak kembali “sejarah” pabrik teh Argalingga itu ternyata tidak mudah. Sudah dicoba dengan bahasa Ingggris, tak ada. Dengan bahasa Belanda, walau saya tak banyak paham tentangnya, hanya satu dua kata saja, juga susah sekali. Saya coba lacak karena ternyata foto-fotonya, alhamdulillah, ada beberapa yang bisa ditemukan.
Andaikata saya Bupati Majalengka, saya akan “rekonstruksi” kembali pabrik itu, walau dengan modal besar, untuk jadi objek wisata sejarah. Jangan sampai ditelantarkan seperti pabrik gula Kadipaten dan Jatiwangi. Mestinya dipelihara sebagai peninggalan sejarah. Jadikan “suaka purbakala” walau tidak terlampau “kuno”–untuk masa sekarang, untuk nanti di kemudian (50 tahun kemudian), itu akan jadi sejarah benar-benar.
Di Talaga terlacak, dalam bahasa Belanda, ada pabrik teh Tjareng. Ada “amtenar” Belanda yang pernah tinggal di situ dan keluarganya berceritera di internet. Belum terlacak ceritera lanjutnya, apalagi foto-fotonya. Jadi, yang di Argalingga ini termasuk istimewa, masih bisa terlacak.
Nah, wajah pabrik teh Argalingga itu seperti ini.
Di mana kira-kira letak pabrik itu? Nah, yang dekat Argalingga mestinya bisa lebih tahu. Saya kuatir tidak ada lagi bekas-bekas apapun. Tapi, siapa tahu? Mungkin bekas-bekas fondasinya masih ada.
Seperti apa keadaan bagian dalam pabrik teh Argalingga itu? Ini sebagian daripadanya.
MAJA (KABUPATEN MAJA?) BAHEULA
Tidak banyak yang diketahui tentang Maja (atau Kabupaten Maja) baheula. Saya harus menggunakan istilah Kabupaten Maja karena foto-foto yang terlacak dari koleksi Tropenmuseum ini tidak seluruhnya saya kenal ada di Maja (desa) atau Maja (kecamatan– sebelum dipecah dua menjadi Maja dan Argapura).
Kabupaten Maja Versus Kabupaten Majalengka
Nah, supaya sambung ihwal Kabupaten Maja dan Majalengka, berikut paparannya.
1. Kabupaten Maja dan Ibukotanya
Mulai tanggal 5 Januari 1819 nama Maja dijadikan nama kabupaten (Kabupaten Maja), yang bersama-sama dengan Kabupaten Cirebon, Bengawan Wetan (Palimanan/Indramayu selatan?), Kuningan, dan Galuh (Ciamis), berada di dalam (termasuk ke dalam) Karesidenan Cirebon (Residentie van Cheribon). Tanggal 5 Januari 1819 itu pembentukan Karesidenan Cirebon dengan keregenan seperti disebutkan di atas.Kabupaten Maja itu mencakup wilayah (yang mungkin tadinya “regenschaft–kemudian jadi distrik) Maja, Sindangkasih, Talaga, Rajagaluh, Palimanan dan Kedondong.
Diduga ibu kota Kabupaten Maja itu “kota” Maja juga. Lihat peta “Kabupaten/Regenschaft Madja” dan analisis di bawah! Sesuai peta, hanya ada dua pilihan untuk disebut ibu kota: Maja atau Talaga. Maja lebih rasional: Nama kabupatennya Maja, ibu kotanya juga Maja. Bengawan Wetan selanjutnya tampaknya bergabung jadi Maja, sementara Indramayu “wilayah partikulir” mulai masuk ke dalam Karesidenan Cirebon (lebih tepat Bengawan Wetan yang ada di utara Cirebon sekitar Gegesik –bukan Palimanan — jadi Indramayu atau Cirebon–Lihat peta berikutnya).
Peta Kabupaten maja (Hinderstein, 1842)
Peta Kabupaten Maja. Batas utara “postweg” (jalan raya) Karangsambung – Jamblang), batas timur garis membelah Ciremay (Jamblang – “regenschaft” Talaga), batas selatan garis di bawah “regenschaft Telaga,” batas barat garis tebal perbatasan Karesidenan Cirebon dan kabupaten Sumedang. Ada dua nama kota di dalamnya: Maja dan Talaga
2. Perubahan Nama Kabupaten: Maja Menjadi Majalengka
a. Legalitas
Mulai 11 Februari 1840 nama Kabupaten Maja diubah menjadi Majalengka. Besluitnya berbunyi:
Verandering van den naam van het regentschap Madja (residentie Cheribon), alsmede van den zetel van hetzelve, thans genaamd Sindang-Kassie, in dien van Madja-Lengka.
“Verandering” [perubahan] “van de naam” [nama] “van het regentschap Madja (residentie Cheribon)” [keregenan/kabupaten Madja (karesidenan Cirebon)], “alsmede” [sekaligus juga] “van den zetel van hetzelve” [tempat kedudukannya/ibu kotanya yang baru], “thans genaamd Sindang-Kassie” [yang saat sekarang ini bernama Sidangkasih],” in dien van Madja-Lengka” [untuk selanjutnya (diberi nama) Majalengka).
Ibu kota, yang dalam bahasa besluit disebut “tempat kedudukannya” (den zetel van hetzelve), yaitu kedudukan keregenan atau pemerintahan Kabupaten Majalengka yang “sekarang ini” (bahasa Belandanya “thans,” alias pada saat itu) bernama Sindangkasih [“thans genaamd Sindangkassie“) diubah nama juga menjadi Majalengka.
Peta Junghuhun (potongan). Sindangkasi sama dengan Majalengka. Perhatikan pula tulisan “aardolie” (minyak bumi–eksplorasi minyak bumi pertama di Indonesia) yang ada di antara Sungai Cimanglet (Cilongkrang?) dan Cibodas) yang bermuara ke K-Leeton (Cilutung)
Jika merujuk peta “Kabupaten Maja” di atas, dan peta kota Sindangkasih (Majalengka) Junghuhn di atas, itu berarti bahwa semula ibu kota Kabupaten Maja itu di Maja, bukan di Sindangkasih. Banyak orang menduga, dari membaca besluit yang sama yang menyebut nama Sindangkasih sebagai tempat kedudukan keregenan yang kemudian diubah menjadi Majalengka seiring perubahan nama Kabupaten Maja menjadi Majalengka itu, ibu kota Kabupaten Maja itu Sindangkasih. Bahkan ada yang menyebut Kabupaten Majalengka itu sama dengan Kabupaten Sindangkasih (suka ditulis Kabupaten Majalengka atau Sindangkasih—salah besar, tidak ada nama Kabupaten Sindangkasih).
Maja dipilih sebagai ibu kota kabupaten diduga karena hawanya yang sejuk. Bagi orang Belanda kesejukan itu perlu dan penting, sesuai dengan iklim daerah asalnya. Lebih-lebih karena bisa pula “naik gunung” ke Argalingga mencari udara yang lebih dingin.
Tampaknya (hipotetis) ada pemikiran pada Pemerintah Belanda ketika itu untuk memindahkan ibu kota Keregenan Maja itu ke tempat lain, yang lebih “datar” sehingga lebih luas untuk pengembangan kota. Maja tidak representatif untuk dikembangkan jadi kota karena berbukit-bukit. Tempat yang terpilih berada di “wilayah Sindangkasih” (bukan desa Sindangkasih sekarang, tapi termasuk bagiannya). Salah satu pertimbangannya pasti ada jalur jalan (dari Karangsambung menuju ke Maja, Talaga, dan juga Kawali–lewat Sindangkasih sekarang, lalu melalui Kulur, Cieurih, Pasanggrahan, Anggrawati dst.).
b. Sindangkasih versus Majalengka
Seiring dengan perubahan tempat ibu kota, bukan di Maja lagi, maka nama kabupaten itu perlu diberi nama baru. Jika menggunakan nama “daerah yang baru” (Sindangkasih), akan bertabrakan nama dengan banyak nama Sindangkasih (Karawang, Ciamis, Beber Cirebon). Lalu dipilih tetap menggunakan nama Maja, akan tetapi harus ditambahi “tambahan kata” agar tidak tabrakan dengan nama Maja yang sudah tidak jadi ibu kota lagi.
Hipotetis: Setelah berdiskusi, tertemukanlah kemudian nama “Majalengka” dari para ahli yang tahu babad Majapahit. Majapahit (kerajaan) itu suka juga disebut Majalengka. Majalengka sama makna dengan majapahit. Dalam bahasa Sansekerta kerajaan Majapahit itu suka disebut juga Vilvatikta atau Wilwatikta. Vilva (wilwa atau bilwa) itu buah maja; tikta artinya pahit. Nama Majapahit sudah jauh lebih populer dibandingkan nama aliasnya, yaitu Majalengka. Dengan kata lain, nama Majalengka dalam berbagai “literatur” sudah tidak digunakan untuk menyebut nama Majapahit. Maka, karena ada persamaan ihwal buah maja (yang pahit itu), digunakanlah nama itu. Akhirnya, jadilah, per 11 Februari 1840 berdiri “kota” Majalengka sebagai ibu kota (“tempat kedudukan keregenannya” atau “den zetel van hetzelve“) yang baru dari Kabupaten Majalengka, yang semula termasuk wilayah Sindangkasih.
Dengan kata lain, daerah “tempat kedudukan pemerintahan” Majalengka yang bernama Sindangkasih itu, dipisahkan dari desa Sindangkasih semula. Bahasa lainnya, desa Sindangkasih dimekarkan menjadi ada Sindangkasih dan ada Majalengka. Ini seperti Kecamatan Majalengka dulu yang sekarang dimekarkan menjadi Kecamatan Majalengka dan Cigasong. Tampaknya begitu. Lihat juga peta “kota” Sindangkasih (Majalengka) versi Junghuhn (1860-an) di atas, disajikan pula di bawah berikut. Tertulis: Sindanglasi (Madja Lengka). Maksudnya, tadinya Sindangkasih, sekarang menjadi Majalengka.
Desa (“Kota”) Sindangkasih (tempat kedudukan kebupatian yang baru) berubah nama menjadi desa (“kota”) Majalengka tahun 1840 (dipetakan Junghuhn tahun 1860)
Jadi, desa (kota) Majalengka itu berdiri dengan besluit (surat keputusan) Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 11 Februari 1840, sebagai nama pengganti dari nama semula Sindangkasih (bagian dari desa Sindangkasih).
“Kampung Sindangkasih” asli (di posisi desa Sindangkasih sekarang) kemudian dijadikan tempat kedudukan pemerintahan desa Sindangkasih yang baru sampai sekarang. Tampaknya urutan sejarahnya demikian. “Desa” (kota) Majalengka kemudian (belum terlacak tahunnya) dimekarkan lagi menjadi Majalengka Wetan dan Majalengka Kulon. Seperti desa Maja yang dimekarkan menjadi Maja Kaler dan Maja Kidul.
Tatang M. Amirin; 25 Nopember 2010; 1 Desember 2010; 5 Januari 2011; 14 Januari 2011; 14 Februari 2011; 4 Juni 2011; 25 Januari 2012; Mei 2012
(c) 2010. Hak cipta pada Tatang M. Amirin. Dilarang memperbanyak seluruh atau sebagian isi tulisan ini tanpa izin pencipta.
PENGANTAR
Tulisan dan gambar-gambar yang dimuat dalam paparan di bawah nanti dilacak dari internet sejak 25 Nopember 2010 sekaligus dengan melacak jejak Kerajaan (Ketumenggungan) Talaga, juga sejarah Kabupaten Majalengka dan (sebelumnya) Kabupaten Maja. Tadinya masih ragu-ragu dengan keberadaan Kabupaten Maja dan Sindangkasih versus Majalengka. Dengan pelacakan itu, yakin seyakin-yakinnya (berdasarkan fakta sejarah) apa yang saya gali benar adanya, yakni bahwa Kabupaten Majalengka baru ada sejak adanya Kabupaten Maja (1819). Perubahan Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka (1840) sekaligus pula mengukuhkan keyakinan tidak ada perubahan nama Kerajaan Sindangkasih menjadi Kerajaan Majalengka (zaman Pangeran Muhammad). Juga bahwa kota Majalengka baru ada sejak ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan dari Maja ke bagian wilayah Sindangkasih, serempak dengan penamaan wilayah Sindangkasih tersebut (khusus yang jadi ibu kota) dengan nama Majalengka seperti nama kabupatennya.
Nama “maja lengka” berasal dari nama kuno yang dipakai (sinonim) untuk menyebut “maja pahit” atau “maja langu.” Maja lengka artinya maja pahit, buah maja yang pahit, karena ada juga buah maja yang manis (maja legi). Lengkit (leng dalam lengkap) artinya sama dengan pahit atau langu. Maja yang pahit itu berenuk (Crescentia cujete). Maja yang manis (maja legi atau maja batu atau Aegle marmelos) bisa dimakan dijadikan sirup, maja yang pahit (berenuk) tidak bisa dimakan, tapi biasa digunakan untuk obat malaria (sebelum kina ditemukan Junghuhn).
Dalam bahasa Sansekerta buah maja itu disebut “bilva”, sementara pahit disebut “tikta” (lihat kamus Inggris-Sansekerta online). Kata “bilva” itu berubah jadi “wilwa” dalam tuturan Indonesia-Jawa; majapahit = wilwatikta. Bilva= bael = buah dari Bengali, India. Bilva (bael) sendiri itu maja legi (buah maja yang manis).
Buah maja (maja pahit, maja lengka, berenuk, atau crescentia cujete)
Buah maja legi atau maja batu (stone apple) atau aegle marmelos atau “bilva” (bael)
Keberadaan Kabupaten Maja yang ibu kotanya di Maja itu tidak banyak bukti peninggalan sejarahnya, selain peta dan beberapa lokasi (foto di bawah) yang menyebut itu ada di Maja (Kabupaten–karena tidak berada di Kecamatan apalagi desa Maja). Yang paling meyakinkan hanya alun-alun Maja yang difoto dari arah kantor Kabupaten berikut. Kenapa difoto? Karena ada sudut pandang khas, yaitu bentuk Gunung Bongkok (Gunung Sela) yang sangat amat spesifik.
Jalan arah ke kiri ke Mesjid Maja — dalam literatur Belanda tertera sebagai berpintu khas -pintu koboy. Yang banyak pedati itu jalan kecil ke kiri ke arah bukit pemakaman, ke kanan akan bertemu lagi dengan jalan raya, di jalan ini tinggal keluarga Yogi S. Memet (mantan Guberbnur Jawa Barat/Mendagri, dan Tuti Hayati Anwar (mantan bupati Majalengka).
Bupati Kabupaten Maja (sampai berubah jadi Majalengka) adalah Raden Tumenggung Dendanegara (1819-1848), yang dipercaya makamnya ada di Gunung Wangi yang oleh penduduk setempat diberi nama Dalem Kiyai. Jalan raya utama Maja -Cirebon adalah jalan raya Maja (kantor bupati), ke utara, berbelok ke kanan melewati jembatan Cirungkut (Cibuni, Cigede–kata orang Babakan Jawa Maja) melewati Blok Saptu terus ke Cileungsi Paniis, Cicalung, Ciomas, Padahanten, Sukahaji, Rajagaluh, Leuwimunding, Banjaran, Palimanan, Plumbon, Cirebon). Jadi jalan itu akan cocok diberi nama Jalan Raden Tumenggung Dendanegara.
MAJA BAHEULA
Ini benar-benar sejarah, yang selalu dan selalu akan dalam pelacakan, dan sepotong-sepotong. Sejarah ini khusus berisikan rekaman-rekaman peristiwa masa lampau, termasuk foto-foto, dari Kabupaten Majalengka. Nah, silakan “masuk” jika punya informasi tambahan.
PABRIK TEH ARGALINGGA
Sekali pernah tertemukan foto jaman baheula (jadoel) rumpun bamboe (bamboedos) di Argalingga. Yang memotret Urang Walanda, tentu. Artinya itu foto jaman ketika Belanda masih sedang bercokol di Indonesia. Menarik. Kenapa hanya rumpun bambu saja kok difoto?
Itu barang aneh bagi orang Belanda, tentu. Di Belanda tidak ada pohon bambu, soalnya. Di Inggris ada sih pohon bambu raksasa, sangat amat besar sekali, bambu besar kehijauan bergaris-garis putih, tapi cuma dalam “kurungan tenda kaca” berpemanas ruangan yang tembus pandang. Lupa-lupa ingat tempatnya, kayaknya di Kebun Raya Inggris yang bernama Kew Garden. Di situ ada juga ikan kancra yang bukan main gedenya. Jelas bukan kancra dari Maja. Hehehe. Ikan kancra Maja mah “karecil,” da sudah agak besar sedikit aja, langsung dijual. Butuh duit, gitu. Mending kalau terjual, kadang kala “dipalingan ku batur,” dan dimakan “sero.” (Wah, kok tidak ada foto “kokolotokan” di pancuran “balong”, ya!)
Foto bambu karya orang Belanda itu jadi mengingatkan pula pada bahwa pada jaman Belanda akhir di Argalingga itu ada perkebunan teh. Orang Belanda mendirikan pabrik teh di Argalingga, dan tentu tinggal di situ (sejuk sih, kayak di Belanda), dan jadilah memotret bambu yang ada di situ, sebagai sesuatu yang menarik. Perkebunan teh itu sekarang tinggal bekas-bekasnya saja. Konon kata yang sering mendaki Gunung Ciremay lewat jalur Apuy, bekas perkebunan itu sudah jadi kebun sayur mayur.
Rumpun bambu di Argalingga [foto 1920; koleksi Tropenmuseum]
Melacak kembali “sejarah” pabrik teh Argalingga itu ternyata tidak mudah. Sudah dicoba dengan bahasa Ingggris, tak ada. Dengan bahasa Belanda, walau saya tak banyak paham tentangnya, hanya satu dua kata saja, juga susah sekali. Saya coba lacak karena ternyata foto-fotonya, alhamdulillah, ada beberapa yang bisa ditemukan.
Andaikata saya Bupati Majalengka, saya akan “rekonstruksi” kembali pabrik itu, walau dengan modal besar, untuk jadi objek wisata sejarah. Jangan sampai ditelantarkan seperti pabrik gula Kadipaten dan Jatiwangi. Mestinya dipelihara sebagai peninggalan sejarah. Jadikan “suaka purbakala” walau tidak terlampau “kuno”–untuk masa sekarang, untuk nanti di kemudian (50 tahun kemudian), itu akan jadi sejarah benar-benar.
Di Talaga terlacak, dalam bahasa Belanda, ada pabrik teh Tjareng. Ada “amtenar” Belanda yang pernah tinggal di situ dan keluarganya berceritera di internet. Belum terlacak ceritera lanjutnya, apalagi foto-fotonya. Jadi, yang di Argalingga ini termasuk istimewa, masih bisa terlacak.
Nah, wajah pabrik teh Argalingga itu seperti ini.
Di mana kira-kira letak pabrik itu? Nah, yang dekat Argalingga mestinya bisa lebih tahu. Saya kuatir tidak ada lagi bekas-bekas apapun. Tapi, siapa tahu? Mungkin bekas-bekas fondasinya masih ada.
Seperti apa keadaan bagian dalam pabrik teh Argalingga itu? Ini sebagian daripadanya.
MAJA (KABUPATEN MAJA?) BAHEULA
Tidak banyak yang diketahui tentang Maja (atau Kabupaten Maja) baheula. Saya harus menggunakan istilah Kabupaten Maja karena foto-foto yang terlacak dari koleksi Tropenmuseum ini tidak seluruhnya saya kenal ada di Maja (desa) atau Maja (kecamatan– sebelum dipecah dua menjadi Maja dan Argapura).
Kabupaten Maja Versus Kabupaten Majalengka
Nah, supaya sambung ihwal Kabupaten Maja dan Majalengka, berikut paparannya.
1. Kabupaten Maja dan Ibukotanya
Mulai tanggal 5 Januari 1819 nama Maja dijadikan nama kabupaten (Kabupaten Maja), yang bersama-sama dengan Kabupaten Cirebon, Bengawan Wetan (Palimanan/Indramayu selatan?), Kuningan, dan Galuh (Ciamis), berada di dalam (termasuk ke dalam) Karesidenan Cirebon (Residentie van Cheribon). Tanggal 5 Januari 1819 itu pembentukan Karesidenan Cirebon dengan keregenan seperti disebutkan di atas.Kabupaten Maja itu mencakup wilayah (yang mungkin tadinya “regenschaft–kemudian jadi distrik) Maja, Sindangkasih, Talaga, Rajagaluh, Palimanan dan Kedondong.
Diduga ibu kota Kabupaten Maja itu “kota” Maja juga. Lihat peta “Kabupaten/Regenschaft Madja” dan analisis di bawah! Sesuai peta, hanya ada dua pilihan untuk disebut ibu kota: Maja atau Talaga. Maja lebih rasional: Nama kabupatennya Maja, ibu kotanya juga Maja. Bengawan Wetan selanjutnya tampaknya bergabung jadi Maja, sementara Indramayu “wilayah partikulir” mulai masuk ke dalam Karesidenan Cirebon (lebih tepat Bengawan Wetan yang ada di utara Cirebon sekitar Gegesik –bukan Palimanan — jadi Indramayu atau Cirebon–Lihat peta berikutnya).
Peta Kabupaten maja (Hinderstein, 1842)
Peta Kabupaten Maja. Batas utara “postweg” (jalan raya) Karangsambung – Jamblang), batas timur garis membelah Ciremay (Jamblang – “regenschaft” Talaga), batas selatan garis di bawah “regenschaft Telaga,” batas barat garis tebal perbatasan Karesidenan Cirebon dan kabupaten Sumedang. Ada dua nama kota di dalamnya: Maja dan Talaga
2. Perubahan Nama Kabupaten: Maja Menjadi Majalengka
a. Legalitas
Mulai 11 Februari 1840 nama Kabupaten Maja diubah menjadi Majalengka. Besluitnya berbunyi:
Verandering van den naam van het regentschap Madja (residentie Cheribon), alsmede van den zetel van hetzelve, thans genaamd Sindang-Kassie, in dien van Madja-Lengka.
“Verandering” [perubahan] “van de naam” [nama] “van het regentschap Madja (residentie Cheribon)” [keregenan/kabupaten Madja (karesidenan Cirebon)], “alsmede” [sekaligus juga] “van den zetel van hetzelve” [tempat kedudukannya/ibu kotanya yang baru], “thans genaamd Sindang-Kassie” [yang saat sekarang ini bernama Sidangkasih],” in dien van Madja-Lengka” [untuk selanjutnya (diberi nama) Majalengka).
Ibu kota, yang dalam bahasa besluit disebut “tempat kedudukannya” (den zetel van hetzelve), yaitu kedudukan keregenan atau pemerintahan Kabupaten Majalengka yang “sekarang ini” (bahasa Belandanya “thans,” alias pada saat itu) bernama Sindangkasih [“thans genaamd Sindangkassie“) diubah nama juga menjadi Majalengka.
Peta Junghuhun (potongan). Sindangkasi sama dengan Majalengka. Perhatikan pula tulisan “aardolie” (minyak bumi–eksplorasi minyak bumi pertama di Indonesia) yang ada di antara Sungai Cimanglet (Cilongkrang?) dan Cibodas) yang bermuara ke K-Leeton (Cilutung)
Jika merujuk peta “Kabupaten Maja” di atas, dan peta kota Sindangkasih (Majalengka) Junghuhn di atas, itu berarti bahwa semula ibu kota Kabupaten Maja itu di Maja, bukan di Sindangkasih. Banyak orang menduga, dari membaca besluit yang sama yang menyebut nama Sindangkasih sebagai tempat kedudukan keregenan yang kemudian diubah menjadi Majalengka seiring perubahan nama Kabupaten Maja menjadi Majalengka itu, ibu kota Kabupaten Maja itu Sindangkasih. Bahkan ada yang menyebut Kabupaten Majalengka itu sama dengan Kabupaten Sindangkasih (suka ditulis Kabupaten Majalengka atau Sindangkasih—salah besar, tidak ada nama Kabupaten Sindangkasih).
Maja dipilih sebagai ibu kota kabupaten diduga karena hawanya yang sejuk. Bagi orang Belanda kesejukan itu perlu dan penting, sesuai dengan iklim daerah asalnya. Lebih-lebih karena bisa pula “naik gunung” ke Argalingga mencari udara yang lebih dingin.
Tampaknya (hipotetis) ada pemikiran pada Pemerintah Belanda ketika itu untuk memindahkan ibu kota Keregenan Maja itu ke tempat lain, yang lebih “datar” sehingga lebih luas untuk pengembangan kota. Maja tidak representatif untuk dikembangkan jadi kota karena berbukit-bukit. Tempat yang terpilih berada di “wilayah Sindangkasih” (bukan desa Sindangkasih sekarang, tapi termasuk bagiannya). Salah satu pertimbangannya pasti ada jalur jalan (dari Karangsambung menuju ke Maja, Talaga, dan juga Kawali–lewat Sindangkasih sekarang, lalu melalui Kulur, Cieurih, Pasanggrahan, Anggrawati dst.).
b. Sindangkasih versus Majalengka
Seiring dengan perubahan tempat ibu kota, bukan di Maja lagi, maka nama kabupaten itu perlu diberi nama baru. Jika menggunakan nama “daerah yang baru” (Sindangkasih), akan bertabrakan nama dengan banyak nama Sindangkasih (Karawang, Ciamis, Beber Cirebon). Lalu dipilih tetap menggunakan nama Maja, akan tetapi harus ditambahi “tambahan kata” agar tidak tabrakan dengan nama Maja yang sudah tidak jadi ibu kota lagi.
Hipotetis: Setelah berdiskusi, tertemukanlah kemudian nama “Majalengka” dari para ahli yang tahu babad Majapahit. Majapahit (kerajaan) itu suka juga disebut Majalengka. Majalengka sama makna dengan majapahit. Dalam bahasa Sansekerta kerajaan Majapahit itu suka disebut juga Vilvatikta atau Wilwatikta. Vilva (wilwa atau bilwa) itu buah maja; tikta artinya pahit. Nama Majapahit sudah jauh lebih populer dibandingkan nama aliasnya, yaitu Majalengka. Dengan kata lain, nama Majalengka dalam berbagai “literatur” sudah tidak digunakan untuk menyebut nama Majapahit. Maka, karena ada persamaan ihwal buah maja (yang pahit itu), digunakanlah nama itu. Akhirnya, jadilah, per 11 Februari 1840 berdiri “kota” Majalengka sebagai ibu kota (“tempat kedudukan keregenannya” atau “den zetel van hetzelve“) yang baru dari Kabupaten Majalengka, yang semula termasuk wilayah Sindangkasih.
Dengan kata lain, daerah “tempat kedudukan pemerintahan” Majalengka yang bernama Sindangkasih itu, dipisahkan dari desa Sindangkasih semula. Bahasa lainnya, desa Sindangkasih dimekarkan menjadi ada Sindangkasih dan ada Majalengka. Ini seperti Kecamatan Majalengka dulu yang sekarang dimekarkan menjadi Kecamatan Majalengka dan Cigasong. Tampaknya begitu. Lihat juga peta “kota” Sindangkasih (Majalengka) versi Junghuhn (1860-an) di atas, disajikan pula di bawah berikut. Tertulis: Sindanglasi (Madja Lengka). Maksudnya, tadinya Sindangkasih, sekarang menjadi Majalengka.
Desa (“Kota”) Sindangkasih (tempat kedudukan kebupatian yang baru) berubah nama menjadi desa (“kota”) Majalengka tahun 1840 (dipetakan Junghuhn tahun 1860)
Jadi, desa (kota) Majalengka itu berdiri dengan besluit (surat keputusan) Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 11 Februari 1840, sebagai nama pengganti dari nama semula Sindangkasih (bagian dari desa Sindangkasih).
“Kampung Sindangkasih” asli (di posisi desa Sindangkasih sekarang) kemudian dijadikan tempat kedudukan pemerintahan desa Sindangkasih yang baru sampai sekarang. Tampaknya urutan sejarahnya demikian. “Desa” (kota) Majalengka kemudian (belum terlacak tahunnya) dimekarkan lagi menjadi Majalengka Wetan dan Majalengka Kulon. Seperti desa Maja yang dimekarkan menjadi Maja Kaler dan Maja Kidul.












Komentar
Posting Komentar